Pages

Senin, 16 Mei 2011

PENDIDIKAN BERBASIS JARINGAN KOMPUTER DAN INTERNET


Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara belajar dengan mendengarkan ceramah guru memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengar saja patut diragukan efektifitasnya. Belajar hanya akan efektif jika siswa diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui multi-metode dan multi-media. Perkembangan teknologi saat ini sangat cepat. Komputer tidak hanya dapat dijalankan sendirian tetapi dapat dihubungkan dengan komputer lain dalam satu jaringan. Komputer yang satu dapat memanfaatkan sumber daya komputer yang lain. Dalam skala yang lebih luas, kita bisa memanfaatkan internet.
Permasalahan dalam karya tulis ini adalah : (1) Perangkat apa saja yang diperlukan untuk membangun pendidikan berbasis jaringan komputer dan internet di sekolah?, (2) Bagaimana model pendidikan berbasis jaringan komputer dan internet di sekolah ? dan (3) Apa keuntungan model pendidikan berbasis jaringan komputer dan internet di sekolah?
Perangkat yang diperlukan untuk membangun pendidikan berbasis jaringan komputer dan internet di sekolah antara lain : (1) infrastruktur yang terdiri dari Server (computer khusus yang bertugas melayani aplikasi-aplikasi jaringan), Client Server (computer yang memanfaatkan layanan dari server), kabel UTP, Konsentrator (perangkat yang digunakan untuk memperluas dan menambah jumlah komputer dalam sebuah jaringan), Modem berfungsi untuk mengkonversikan data digital ke data analog dari komputer pengguna ke komputer server melalui jalur telepon dan sebaliknya, Setting LAN, Setting Internet, Sharing Internet dan Trouble shooting Jaringan , (2) Sumber Daya Manusia (SDM), yang terdiri dari guru dan laboran, dan (3) Content adalah materi pelajaran yang dikemas menggunakan media komputer. Content ada dua yaitu : Content yang dibuat oleh guru dan Content yang dibuat orang lain
Pendidikan berbasis jaringan dan internet dapat dilakukan di dua tempat yaitu : (1) Laboratorium komputer dan (2) Kelas. Pendidikan berbasis jaringan dan internet yang dilakukan di laboratorium dapat dilakukan melalui dua model, yaitu (1) Content yang bukan berasal dari internet, Guru memasukkan content melalui CD atau flashdik ke dalam komputer server kemudian content itu dishare ke komputer client. Siswa membuka content itu di komputer client masing-masing dan Content yang berasal dari internet, Guru memberikan alamat website pendidikan kepada siswa untuk melakukan browsing di internet.
Keuntungan model pendidikan berbasis jaringan dan internet di sekolah adalah : (1) meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan atau instruktur, (2) apabila dirancang secara cermat, pembelajaran melalui jaringan dan internet dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan bahan belajar, peserta didik dengan guru, dan antara sesama peserta didik, (3) memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja, (4) meningkatkan motivasi belajar siswa, (5) mendukung pembelajaran individual sesuai kemampuan siswa, dan (6) belajar mandiri.

"Mobile E-Learning Will Go Away" : M-Learning?


Apa Peran M-Learning (Analysis Roger Schank)
Phillip Rekdale (19-2-2010);
Salam Sejahtera. Saya harus mengaku bahwa konsep M-Learning agak menarik dari awal tetapi informasi dari sumber-sumber lokal (di Indonesia) hanya membuat saya sangat ragu-ragu karena sangat berbasis retorika (lagi) dan "Mutunya M-Learning sangat tergantung Mutunya SDM" (a major issue).

Dari semua penelitian saya di luar negeri, M-Learning kelihatannya masih dalam uji coba dan kelihatannya lebih mengarah ke kebutuhan dan pembelajaran di bisnis dan korporate sektor. Tetapi ada saran yang sangat menarik kemarin dan saya berharap saran dari anda:

Re Artikel: "Roger Schank’s Quote Got Me Thinking"
(Sumber: Mobile learning (m-Learning), mobility, mobile devices)

"I wanted to bring up a blurb from a very respected expert that puzzled me a little bit. Before I go any further, I have to place credit where credit is due. Roger Schank is an esteemed expert in the field of learning design and I’ve read a couple of his books and learned a lot from him through those books. He wrote a recent blurb for eLearn Magazine when asked to produce his 2010 predictions and the quote was:
 Terjemah:
"Saya ingin membawa uraian dari seorang pakar yang sangat dihormati yang membingungkan saya sedikit. Sebelum saya melangkah lebih jauh, saya harus menempatkan kredit dimana kredit ini disebabkan Schank adalah Roger. seorang ahli unggulan di bidang desain pembelajaran dan saya 'telah membaca beberapa buku dan belajar banyak dari dia melalui buku-buku Ia menulis uraian terbaru untuk Majalah eLearn ketika diminta untuk menghasilkan 2010 nya prediksi dan kutipan itu.:

"Bye Bye, Phone
Mobile e-learning will go away. There is always the latest thing in e-learning that everyone must do. One of my least favorite of these is mobile e-learning. E-learning will not happen, at least not seriously, on mobile phones.

Why not? Because it takes time to learn something. You have to really understand a situation. You have to practice a skill. You have to consider alternatives. You have to create deliverables. At least you do for the e-learning that I build. This takes time—a lot of time. It was seriously suggested recently in a full year all day every day course I was building, that we needed to make it available on mobile phones. I don’t know about you, but staring at mobile phone for an hour makes my eyes hurt. Try doing it all day for a year. It makes no sense.

We don’t learn anything instantly. Real learning is not done on a train or a bus. The kinds of courses that can be delivered that way will be shown to not be particularly useful.

—Roger C. Schank, Socratic Arts Corp., and eLearn Magazine opinion columnist"


"My immediate thought was that he’s wrong, and that can be expected from me as I am someone who’s passionate about the subject of mLearning. But then I dissected his quote and realized that he’s right to say that mobile learning will not happen the same way it does with real eLearning. That’s true, and mLearning is not supposed to be like eLearning. Mobile devices are not the venue for deep, broad learning, at least not as a single source for that learning (i.e. they can be part of a deeper, longer process of learning, but they are not a great place for that type of learning by themselves).

Mobile learning is often best as an extension to that core knowledge that you learn in a classroom or a good eLearning course. Mobile learning also has the potential to allow someone to access the information from those courses at any time because of the ubiquitous nature and portability of mobile devices.

Mobile learning at its’ best conforms to the learner’s lifestyle in a way that traditional classroom learning and eLearning titles just can’t. So while a learner is building a base of knowledge in a traditional setting, mobile learning can act as an extension to that, allowing the learner to practice certain tasks and recall important concepts at the point of need or simply to brush up on skills.

I don’t think mobile learning will or should ever come in the form of large multi-hour courses. But I do think that mobile learning has its’ place and I do think that mLearning is gaining strength not because it’s another learning technology fad, but because it has real promise and shows real potential to help learners."
 Terjemah:
"Bye Bye, TeleponMobile e-learning akan hilang. Selalu ada hal terbaru dalam e-learning yang setiap orang harus lakukan. Salah satu favorit saya paling hina ini adalah mobile e-learning. E-learning tidak akan terjadi, setidaknya tidak serius, di ponsel.
Mengapa tidak? Karena butuh waktu untuk belajar sesuatu. Anda harus benar-benar memahami situasi. Anda harus berlatih keterampilan. Anda harus mempertimbangkan alternatif. Anda harus membuat kiriman. Setidaknya Anda lakukan untuk e-learning yang saya membangun. Hal ini membutuhkan waktu banyak waktu. Itu serius disarankan baru-baru ini dalam satu tahun penuh sepanjang hari setiap kursus hari saya sedang membangun, bahwa kami perlu untuk membuatnya tersedia di ponsel. Aku tidak tahu tentang Anda, tapi menatap ponsel selama satu jam membuat mata saya sakit. Cobalah melakukannya sepanjang hari selama setahun. Tidak masuk akal.
Kita tidak belajar apa-apa langsung. Real pembelajaran tidak dilakukan pada sebuah kereta atau bus. Jenis kursus yang dapat disampaikan dengan cara itu akan ditampilkan untuk tidak terlalu berguna.
-Roger C. Schank, Socrates Seni Corp, dan eLearn kolumnis Majalah pendapat "

"Pikir langsung saya adalah bahwa dia salah, dan yang dapat diharapkan dari saya karena saya seseorang yang bergairah tentang subjek mLearning Tapi kemudian. Aku membedah mengutip dan menyadari bahwa ia benar mengatakan bahwa belajar seluler tidak akan terjadi dengan cara yang sama hal ini dengan eLearning nyata Itu benar, dan mLearning tidak seharusnya menjadi seperti eLearning.. Mobile perangkat bukan tempat untuk mendalam, pembelajaran yang luas, paling tidak sebagai sumber tunggal untuk itu yaitu (belajar mereka bisa menjadi bagian dari yang lebih dalam , lagi proses belajar, tetapi mereka bukan tempat yang bagus untuk jenis belajar sendiri).

Mobile belajar sering terbaik sebagai ekstensi untuk pengetahuan inti yang Anda pelajari di kelas atau kursus eLearning baik. Mobile belajar juga memiliki potensi untuk memungkinkan seseorang untuk mengakses informasi dari mereka yang kursus di setiap saat karena sifat mana-mana dan portabilitas perangkat mobile.

Mobile belajar di sesuai perusahaan terbaik untuk gaya hidup pelajar dengan cara yang tradisional kelas belajar dan eLearning judul tidak bisa. Jadi sementara seorang pelajar adalah membangun basis pengetahuan dalam suasana tradisional, pembelajaran mobile dapat bertindak sebagai ekstensi untuk itu, yang memungkinkan pelajar untuk praktek tugas-tugas tertentu dan mengingat konsep penting pada titik kebutuhan atau hanya untuk memoles keterampilan.

Saya tidak berpikir pembelajaran bergerak akan atau pernah harus datang dalam bentuk program multi-jam besar. Tapi aku berpikir bahwa pembelajaran bergerak memiliki tempat dan saya pikir mLearning yang mendapatkan kekuatan bukan karena itu iseng lain teknologi pembelajaran, tetapi karena memiliki janji nyata dan menunjukkan sangat potensial untuk membantu peserta didik. "



Phillip Rekdale;
Ingat Mutu SDM dan Pasarnya adalah faktor-faktor utama dan saran ini juga dari negara di mana mutu pendidikan di sekolah sudah baik (prioritas utama) dan Pendidikan Bermutu Di Sekolah-Sekolah Di Seluruh Indonesia Masih Adalah Prioritas Utama Kita.
http://pendidikan.net/index.html#5langkah
Saran Dari Lapangan
Winastwan Gora Swajati;
Benar sekali pak, sepertinya M-Learning akan sulit menjangkau dan optimal pada penggunaannya. Sebenarnya kita dapat memadukan antara E-Learning dan M-Learning (Blended) agar delivey pembelajaran dapat optimal. M-Learning hanya cocok untuk pemberian Just in Time support (YM, Skype dan Twitter) dan kecepatan mengakses informasi (untuk interaktifitas) dalam forum diskusi. Jadi, tidak semuanya akan dilakukan dalam mobile phone. Setidaknya, pemanfaatan Mobile Learning dapat sedikit memberi contoh kepada para siswa dan guru, bahwa mereka dapat melakukan interaktifitas pembelajaran menggunakan ponsel mereka, jadi pemanfaatannya tidak sekedar untuk mengakses situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter untuk kesenangan saja :)

Phillip Rekdale;
Re: "E-Learning"
Harus hati-hati dengan e-learning karena dapat membunuh kreativitas dan inovasi pelajar, yang adalah isu utama di Indonesia (jangan melanjutkan asal-hafal-saja). http://teknologipendidikan.com/kreativitas.html Tetapi saya senang bahwa anda mengerti isu-isunya dan seperti saya bilang kemarin (asal m-learning tidak makan banyak anggaran pendidikan yang diperlui untuk memperbaiki pendidikan di sekolah) - Semoga sukses!

Winastwan Gora Swajati;
Saya selalu mengikuti tulisan anda pak, dan saya setuju dengan pendapat anda. Sepertinya pemanfaatan teknologi pendidikan sangat berpengaruh juga dengan strategi pembelajaran guru. Seharusnya para pengajar memahami bagaimana pemanfaatan teknologi yang mendukung pembelajaran aktif, dan tidak mengebiri kreativitas siswanya untuk menciptakan kelas-kelas Contructivism.

Arnol Adams;
Menarik sekali, saya sendiri membuat skripsi tentang pengembangan Mobile Learning , hasilnya saya membuat program belajar yang dapat di gunakan di Handphone , screenshotnya lihat disini ==>> http://latihansoal.com/3230.jpg , untuk programnya bisa dilhat dimana? ya di handphone saya :)

Phillip Rekdale;
Yang sangat menarik adalah pasar: (bukan programnya) Apakah pemakai hanfone yang biasanya main games dan chatting mau belajar oleh hanfone? http://teknologipendidikan.com/schank.html
Internet saja dapat gagal....
http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=11&artid=2094
Anak-anak kita, suka main games dan chatting sampai tidak masuk sekolah.
http://E-Pendidikan.Com

Arnol Adams;
Saya rasa dibilang gagal itu kurang tepat, kemungkinan infrastruktur yang mendukung e-learning masih kurang , dan saya rasa juga kurang tepat jika membandingkan internet dan media handphone sebagai mobile learning. Pasarnya sangat tepat karena kebanyakan orang lebih menggunakan handphone daripada komputer, yang kurang adalah penggerak mobile learning bahkan saya belum menemukan mobile learning berbasis handphone di indonesia, jika ada mohon petunjuknya

Phillip Rekdale;
Re: "Saya rasa dibilang gagal itu kurang tepat"
Mampir ke warnet setelah jam sekolah dan melihat sendiri. Apakah ada siswa-siswi yang mengakses situs pembelajaran?

Re: "Pasarnya sangat tepat karena kebanyakan orang lebih menggunakan handphone daripada komputer"
Kalau tidak ada pelajar yang mengakses situs pembelajaran di warnet biar lebih banyak memakai handphone 0x...=0 (zero x jumlah apa saja masih zero), kan?

Mungkin sebaiknya begitu karena e-Learning dapat membunuh kreativitas....
http://teknologipendidikan.com/kreativitas.html

Phillip Rekdale;
Ini memang hanya sistem penelitian yang sangat-sangat dasar untuk sebagai indikator pasarnya, tetapi sebagai tahap pertama masih relevan. Anyway, we will only see with time, hopefully not like we have seen with so many previous new generations of technology.
http://pendidikan.tv/comments.html

Phillip Rekdale;
Mampir ke beberapa warnet dan mencatat datanya sendiri. Saya secara rutinitas suka keliling di warnet, dan yang diakses oleh siswa-siswi "sangat menarik".
Salam Penelitian.

Arnol Adams;
Selamat meneliti, jika ada hasilnya saya mohon untuk memberitahukan hasilnya , karena 2 tahun yang lalu saya sangat tertarik terhadap mobile learning tetapi karena waktu berjalan saya mulai menurun minatnya , terimakasih pak

Phillip Rekdale;
@Alri: Maaf Pak, saya capai membaca retorika begitu.
Re: (pendidikan dan pembelajaran) "mang bnar ICT dpt digunakan dimana aja dan kapan aja tanpa terbatas" Luar biasa, silakan membaca http://TeknologiPendidikan.Com

Produk Teknologi ini dapat Membuat Revolusi Di Bidang Pendidikan Di Seluruh Indonesia. Sekarang kita dapat belajar di manapun, di kota besar, di kota kecil, di desa, maupun di becak. Relatif kecil dan dapat masuk tas anda jadi dapat dibawa ke mana saja. Anda hanya perlu mempunyai niat belajar dan anda dapat belajar tan...pa batas. Tidak perlu koneksi ke listrik dan battery dijaminkan selama hidup (katanya). Juga tidak kena ongkos layanan (Internet atau Hanfon). Tidak memakan pulsa jadi kalau anda tidur dan lupa mematikan alat revolusi pendidikan ini tidak akan kena ongkos. Alat ini juga dapat dipakai di seluruh dunia tanpa koneksi khusus. Alat revolusi ini dapat dibeli di toko dekat anda sekarang dan dapat digunakan secara langsung... dan dapat belajar sambil pulang! Ayo Beli Sekarang!
http://pendidikan.net/revolusipembelajaran.html

Produk Teknologi itu saja yang penting sekali belum cukup!
http://pendidikan.net/index.html#5langkah

Poin-Poin Dari Diskusi Lain (24-2-2010)

Phillip Rekdale;

Bagaimana pasarnya, apakah pemakai hanfone yang biasanya main games dan chatting mau belajar oleh hanfone?
Internet saja dapat gagal....
http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=11&artid=2094
Anak-anak kita, suka main games dan chatting sampai ada yang tidak masuk sekolah.
http://E-Pendidikan.Com
Coba keliling warnet-warnet setelah jam sekolah. Apakah ada siswa-siswi yang masuk situs pembelajaran? Apakah siswa-siswi kita berniat untuk belajar di Internet dan HP, atau hanya ingin main?
http://teknologipendidikan.com/schank.html

Saya bukan "pesimis", semuanya berbasis-kenyataan. Saya sangat optimis bahwa kita dapat meningkatkan mutu pendidikan, hanya belum ada indikator bahwa Internet atau m-Learning dapat berhasil di sini. Soalnya anak-anak (maupun yang dewasa) kelihatannya anggap komputer dan hanfone adalah untuk chatting, e-mail, Facebook, dll (FUN). Memang sudah lama media HP dan Internet dipromosikan begitu sampai sudah menjadi kebudayaan (melihat iklan-iklan sekarang saja semuanya mengarah ke chatting). Maupun Internet hanya menambah banyak masalah, dan e-Learning mengancam kreativitas anak-anak kita.

Apakah m-learning (pendidikan) dapat sebagai pilihan yang betul menarik? Kalau anak-anak keluar dari sekolah, dan mereka menggunakan teknologi, kelihatannya mereka hanya mencari hiburan (apa lagi kalau di jalan, ngobrol terus), bukan pembelajaran. Warnet-warnet adalah indikator yang dapat memberi gambar (kasar) mengenai "potential market" di sini, dan saya pasti tidak mau invest di m-Learning, maupun saya sedih kalau kita membuang anggaran pendidikan lagi untuk sesuatu yang dapat gagal.

Kalau m-Learning disponsori oleh bisnis 100% saya tidak peduli, silakan membuang uang kalau mempunyai kelibihan.

Mungkin ada peran untuk pembelajaran lewat HP tetapi fitur-fitur yang dipromosikan sekarang tidak sesuai, menurut saya. Misalnya, berapa kali pelajar perlu akses informasi dari buku sekolah? Kalau di rumah ada bukunya, kalau di jalan kapan pikiran siswa-siswi sampai di situ?

Kayaknya yang diangap adalah kebutuhan-kebutuhan tidak berdasar gaya hidup dan kebutuhan pelajar-pelajar sebenarnya. Seperti saya menulis di "Teknologi - Solusi Yang Mencari Masalah" http://teknologipendidikan.com/solusi.html#solusi

Berapa kali waktu anda masih siswa, atau lagi kuliah anda perlu informasi begitu, apa lagi kalau di jalan?

Selama saya belajar (termasuk 14 tahun kerja sambil kuliah) fitur-fitur yang dipromosikan bukan sesuatu yang saya berharap.

Kalau ingin belajar sambil jalan buku-buku masih adalah solusi yang tepat, dan tidak ada banyak distraksi seperti di Internet dan HP. Sebenarnya kalau kita lagi belajar secara serius seharusnya HP dimatikan supaya tidak menggangu konsentrasi.

Buku-buku untuk siswa-siswi juga dapat diakses gratis kalau kita memberdayakan peran perpustakaan sekolah dan membangunkan banyak perpustakaan lingkungan.
http://pendidikan.net/revolusipembelajaran.html

Teknologi dan Pendidikan Sedang Mengalami Dikotomi

Apakah E-Pendidikan Adalah Mimpi?
Internet Masuk Sekolah - Mengapa?
Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet (tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran (dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan prioritas kan? (Informasi Lanjut)

Pendidikan Yang Bermutu adalah:

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)


Kami di Pendidikan.Network sudah terus mendukung perkembangan teknologi di DepDikNas maupun di sekolah sejak tahun 1998. Tetapi kami juga wajib untuk memonitor perkembangan teknologi dari sisi keuntungan dan kemajuan mutu pendidikan secara rialistik dan holistik, kalau tidak, kita dapat lebih mundur dan hanya menghabiskan banyak dana pendidikan yang sedang kurang. Apakah pembelajaran teknologi di sekolah adalah penting?

Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan siswa-siswi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu.

Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia (dan di seluruh dunia).

Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).


Walapun kita sangat mendukung pembelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa "teknologi pembelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?
Misalnya, Meningkatkan Peran dan Mutu Perpustakaan Sekolah. Apakah hal utama adalah "Library Management System"?

Senayan Open Source Library Management System


Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan?

Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi umum.

Padahal ada hal-hal yang perlu diatasi dulu misalnya: "Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno" yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin.

Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain. Kelihatannya pertanyaan-pertanyaan dasar yang penting sering tidak ditanyakan, seperti, mengapa di negara-negara maju mereka tidak melaksanakan ini? Mengapa di negara mana saja dasarnya pendidikan masih berbasis-kelas konvensional, bukan berbasis-TI? Mungkin negara lain belum memikirkan? Percayalah, dunia pendidikan termasuk bidang yang paling rajin untuk mencari kesempatan untuk menggunakan teknologi. Sering isu pendidikan dan 'teknologi baru' sudah dibahas dan diuji coba sebelum teknologinya muncul di pasar.

Yang perlu diperhatikan adalah inovasi-inovasi baru (dan sering yang tidak baru) akan ditunjuk dan didorongkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat beruntung kalau teknologinya didadopsi di dunia pendidikan. 'Tetapi kita sebagai pendidik harus selalu melihat semua aplikasi teknologi dari kenyataan dan keuntungan terhadap mutu pendidikan' (bukan dari retorika).


Apakah, karena makin banyak siswa-siswi sekarang main Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan PRnya ini sebagai salah satu faktor penyebab hasil Ujian Nasional (UN) kelihatannya menjadi lebih buruk?

Kita perlu tahu!

Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100% tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium. Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya. Dengan teknologi seperti TV-Edukasi misalnya, siaran TV masuk sekolah kayaknya gagal karena kurang meneliti pengalaman-pengalaman di negara lain, dan juga tidak melihat dari keadaan dan keperluan guru di sekolah. Hasil sekolah 100% tergantung mutu pendidikannya, bukan teknologi yang mereka menggunakan untuk menyampaikan pendidikannya.

Kebetulan kemarin di seminar "Cutting Cost with ICT Convergence" salah satu wilayah yang disebut yang belum memasang teknologi wireless adalah daerah Pacitan. Pacitan adalah salah satu daerah di mana kami sudah menyaksikan pelaksanan pendidikan yang sangat bermutu. Guru-gurunya bersemangat melaksanakan PAKEM dan sangat mengembankan kreativitas siswa-siswinya. Sekolah-sekolah yang belum terlatih juga belajar PAKEM secara mandiri - salut!

Mohon ingat ......

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

Pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) adalah hal yang sangat penting di semua sekolah. Tetapi akses ke Internet untuk siswa-siswi di sekolah di luar pelatihan khusus sebenarnya tidak begitu penting, kecuali untuk melanjutkan pelajaran yang dibimbing oleh guru.

Pasti banyak siswa-siswi tidak akan setuju karena main Internet memang "fun", tetapi kami belum melihat bukti bahwa anak-anak sekolah yang sering menggunakan Internet secara bebas lebih berhasil di UN daripada yang menggunakan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolahnya dan rajin mengerjakan PRnya. Mungkin sebaliknya?

Suka atau tidak suka, siswa-siswi kita akan dinilai dari hasil mereka di UN atau Ujian Sekolah (bukan dari kemampuan mereka "Chatting di Internet"). Selain masalah ujian, kapan siswa-siswi akan punya waktu di sekolah dengan kurikulum yang sangat padat untuk menggunakan Internet kecuali di kelas TI. Apakah kita ingin mengganti guru dengan pelajaran dari Internet (machine)? Sudah sering dicoba di negara lain!

Sekarang kita sedang mencoba "Sistem Pembelajaran Berbasis-TI". Kami pertama kali kenal Pembelajaran Berbasis-TI pada tahun 1992 di luar negeri, memang bukan sesuatu yang baru dan masih hanya digunakan di kursus/kelas tertentu saja. Tetapi kalau kreativitas sebagian dari siswa-siswi kita dapat ditingkatkan oleh 'membuat program-program' seperti ini yaitu memang baik.

Kita lihat bahwa pemerintah akan siapkan Rp 1 Triliun untuk "melengkapi laboratorium komputer" di sekolah-sekolah SMP/SMA/SMK untuk e-learning. Tetapi kalau sekolahnya hanya memiliki satu laboratorium komputer itu pasti akan dipakai terus untuk mengajar TI, bukan?. Apakah semua sekolah akan menerima cukup komputer untuk melengkapi beberapa lab/kelas?

Apakah "Pembelajaran Berbasis-TI" atau "E-Learning" betul adalah solusi rialistik untuk seluruh Indonesia? Atau, Pembelajaran Berbasis-TI hanya akan membesarkan jaraknya lagi antara sekolah yang punya dan yang tidak? Memang semua sekolah wajib untuk mempunyai lab komputer untuk mengajar TI (ini saja belum), tetapi kita akan perlu beberapa kelas lagi (di semua sekolah) yang dilengkapi dengan komputer supaya mata pelajaran yang lain juga dapat menggunakan komputer. Kalau kita melihat dari harga teknologinya (yang setiap beberapa tahun perlu diupdate), kurikulum yang sering dirubah, ongkos pemiliharaan teknologinya, dll, dengan anggaran yang sekarang tidak cukup untuk mengelola pendidikan 'Berbasis-Guru' dengan baik atau meningkatkan kesejahteraan guru dan staf TU sampai jadi manusiawi, bagaimana mungkin? (Saran 12/11/2007)

Mengapa kita selalu mencari solusi baru (yang sering tidak baru seperti TV-Edukasi atau Pembelajaran Berbasis-TI) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia? Apakah karena alokasi anggaran memang tidak cukup untuk memperbaiki pendidikannya dan kita hanya mencari kesibukan? Atau karena paradigma lama kita (proyek) belum merubah sejak awal? Mengapa teknologi sering dianggap sebagai solusinya?

Misalnya, sekarang DepDikNas sedang membangun jaringan JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?

Apakah tidak lebih baik kalau kita menggunakan 100% dari anggaran Rp.42 triliun itu untuk mengatasi hal-hal yang sudah jelas dapat meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah, sesuai pemintaan dari lapangan dan perencanaan terhadap semua aspek kebutuhan sekolah?

Maksud kami, kalau atap sekolahnya bocor dan mau ambruk, tetapi yang diberikan adalah sambungan ke Internat, apakah ini betul bermanfaat? Kita perlu mulai dengan sekolah yang paling ketinggalan supaya mengarah ke keadilan akses pendidikan yang bermutu (dan melihat dari segala aspek). Tetapi karena JarDikNas sudah berjalan sebaiknya kita "Berfikir Optimis" dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini "Pemindahan Jardiknas" (termasuk saran-sarannya). Memang itu sulit untuk "berpikir optimis"!

"Kata Menkominfo, akses-akses informasi pada jaringan ICT tersebut, akan ditekankan pada unsur e-education (pendidikan), e-health (kesehatan), dan e-economy (ekonomi) yang dapat mengurangi gap di bidang ICT antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan".
Tetapi ini akan sangat tergantung peran dan mutunya SDM di pemerintah, bukan?.

Kalau kita melihat teknologi yang sudah ditangani oleh pemerintah, misalnya website-website (12-1-2008):
http://pustekkom.depdiknas.go.id Setelah beberapa bulan muncul lagi - Bermanfaat?
E-Learning Yang Bermutu - Di Mana?
http://www.pustekkom.go.id [Mati]
Ini situs "Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan" kita.
Sejak Bulan Mei 2007 situs ini kelihatannya tidak diurus.

http://www.tvedukasi.org [Coba Links - Jadwal TV?]
Kalau coba situs lama: http://www.e-dukasi.net/tve/ ???
14 April 2007, "Rp300 Miliar untuk Program TV Edukasi"
Mengapa begini? Ke mana uangnya?
Sejak Bulan Mei 2007 situs ini kelihatannya kurang bermanfaat.
Data untuk Transparansi dan Akuntabilitas???

http://www.perpustakaan.diknas.go.id/ [Hidup-Mati-Hidup Terus, Cek Isinya!]
Ayo, kita meningkatkan minat baca! Di mana ya?

Apakah JarDikNas Pindah Lagi?
http://jardiknas.depdiknas.go.id/ [Data? / Informatif? / Transparansi???]
Situs-situs yang lama juga kelihatannya tidak di-update-update (Datanya?)
http://jardiknas.diknas.go.id
http://jardiknas.org, http://jardiknas.net

Ref: "Dana Pendidikan 11,2% (Rp42 triliun) Mampu Bangun Jardiknas"
"Dana Aktual" & Data untuk Transparansi dan Akuntabilitas belum kelihatan!

Buku Sekolah Elektronik (BSE)
- Yang jelas percuma membuat Ebook Sekolah di Web!

- - - "Transparansi dan Pembenahan Moral" - - - Sudah waktunya!


Coba situs pemerintah yang lain di: http://Re-SearchEngines.Com.
Apakah website-website DepDikNas adalah informatif dan mendidik?

Yang paling penting dalam singkatan "TIK" (Teknologi Informasi Komunikasi) adalah bagian "I" Informasi, dan ini yang sangat kurang dan perlu dibangun dulu, baru memikirkan teknologi.

E-Learning (lewat Internet) juga sebagai salah satu alat bantu pendidikan untuk situasi yang cocok dan kondusif. E-Learning adalah strategi yang biasanya lebih cocok untuk pelajar yang lebih matang seperti mahasiswa, yang jauh dari kampusnya atau yang dewasa yang harus menyesuaikan waktu belajar dengan jadwal pekerjaan atau tugas Ibu Rumah Tangga.


Memang pembelajaran teknologi adalah penting, tetapi teknologi pelajaran hanya sebagai beberapa macam alat bantu bukan solusi terhadap segala masalah pendidikan.

Kami melihat bahwa "TTG Solusi Pengentasan Kemiskinan di Pedesaan" muncul di berita lagi. Konsep ini sudah menarik sejak tahun 2005 (Telecenter CyberDesa), dan kami juga ikut konferensi Desember 2005. Tetapi pada waktu itu kami mulai sangat ragu-ragu oleh karena untuk selama dua hari itu yang dibahas saja adalah teknologi. Teknologinya bukan masalah, masalahnya adalah SDM di telecenter-telecenter yang pandai dan berdedikasi untuk membantu rakyatnya - ini yang perlu dibahas. Banyak orang di Indonesia sudah pandai mengimplementasikan teknologi, tetapi teknologi tanpa SDM yang 'Terlatih Khusus' dan Sangat Bermutu dan 'Mampu Mengurus Kebutuhan-Kebutuhan Rakyat di Pedesaan' bagaimana? Kita dapat berhasil? Bagaimana hasilnya sampai sekarang?

Ayo Pak MenDikNas, Mari kita berjuang bersama untuk meningkatkan semua aspek pendidikan supaya menjaminkan pendidikan yang bermutu untuk semua...

Anggaran Pendidikan 20% - Bersih Tanpa Korupsi dan MarkUp ... Mohon perhatian isu-isu pendidikan di lapangan!

"Bambang Sudibyo menambahkan, adanya fasilitas ICT akan mampu memperbaiki akses pendidikan yang bermutu, yang selama ini sulit diakses oleh mereka yang bermukim di kawasan terpencil." (ANTARA News).

Maaf Pak, maksudnya "akses pendidikan yang bermutu" yang mana, di mana? Mohon memberi tahu Pak!

Ilusi Atau Solusi   
(Saran/Pertanyaan dari Lapangan)



Kami sedang mencari sumber-sumber bahan pelajaran dan bahan pengajaran di Internet untuk anak-anak dan guru. Mohon mengirim link-link ke DataBase Kami di bagian "Situs Bahan Pelajaran" atau "Situs Bahan Pengajaran" .

Apa kebutuhan "Guru Tahun 2008"?
(membaca-menulis saran anda)

Silakan Mengirim Saran Anda

Isu-Isu Marketing Teknologi di Asia


Salam Pendidikan

Phillip R.

# - di.ko.to.mi n pembagian atas dua kelompok yg saling bertentangan
(Ref: Kamus Besar, Departemen Pendidikan Nasional Edisi 3)


Saya Phillip Rekdale setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

Faktor-Faktor yang Menetapkan Efektivitas Sekolah

Kalau kita melihat faktor-faktor yang menetapkan efektivitas sekolah kita dapat melihat bahwa teknologi pendidikan adalah salah satu isu di dalam satu bagian dari satu faktor (KBM) dari beberapa faktor yang menetapkan sekolah efektif. Teknologi pendidikan hanya adalah 'beberapa macam alat yang mungkin dapat membantu' dan teknologi pendidikan canggih sebetulnya bukan isu KBM yang penting untuk guru atau dosen yang bermutu dan kreatif. Di bawah kita dapat melihat perspektif peran teknologi pendidikan di sekolah yang efektif "".




Gambar Asli dari: Factors that Determine School Effectiveness (World Bank)

 Variety in Teaching Strategies - Strategi Pengajaran (KBM) yang Bervariasi

Yang bertanggungjawab untuk strategi pengajaran yang bervariasi dan kreatif adalah guru dan dosen sendiri. Pengajar adalah wajib untuk menggunakan kemampuan dan kreativitas mereka semaksimal mungkin untuk merancang rencana pembelajaran yang merarik dan efektif. Isu utama dalam perencanaan strategi yang bervariasi dan efektif adalah bahwa siswa/i atau mahasiswa/i diajak seaktif mungkin dalam proses KBM. Guru maupun dosen dapat memilih dari beberapa macam alat bantu termasuk peraga atau teknologi.

Yang penting kalau memilih teknologi canggih adalah teknologinya digunakan sesedik mungkin karena banyak macam teknologi seperti video dan proyektor data (infokus) dapat membuat peran pelajar sangat pasif dalam proses KBM maupun cepat membosankan.

Contoh penggunaan teknologi yang sangat efektif untuk pembelajaran yang mengaktifkan pembelajaran maupun meningkatkan kreativitas siswa-siswi dan guru dapat dilihat di sini.
 Adequate Facilities - Fasilitas yang Cukup

Sarana Prasarana yang Cukup termasuk Laboratorium Komputer dan Perpustakaan yang cukup lengkap. Semua sekolah wajib untuk mengajar Keterampilan Komputer dan isu-isu Teknologi Informasi Komunikasi (TIK). Pembelajaran mengenai teknologi adalah isu yang penting di semua tingkat sekolah karena semua anak-anak yang keluar atau lulus dari sekolah perlu kemampuan menggunakan komputer. Karena di Indonesia masih banyak yang tidak lanjut dari SMP maupun SD ilmu komputer menjadi kewajiban di semua tingkat pendidikan termasuk SD.

Yang bertanggungjawab untuk semuanya di atas termasuk laboratorium komputer, perpustakaan, suasana sekolah dan situasi yang kondusif adalah Kepala Sekolah dan Pemerintah, jadi di Indonesia itu paling penting (Prioritas #1) bahwa kita:
"Memberantas Korupsi di Dunia Pendidikan Kita".



          

Minggu, 15 Mei 2011

Pendidikan Pada Era Informasi Adalah Pendidikan Berbasis TIK


Pendidikan pada era informasi adalah pendidikan berbasis teknologi komunikasi dan informasi.

Pendidikan berbasis ICT ditandai dengan dimanfaatkannya banyak teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran. Salah satu bentuknya yang nyata adalah berkembangnya pembelajaran melalui e-learning atau online course. Tersedianya berbagai tools dan opsi untuk synchronous dan asynchronous learning membuat sekolah dan universitas mudah mengadopsi inovasi tersebut. Meskipun tidak sedikit diantara mereka yang bingung memilih. Contoh pemanfaatan asynchronous tools yang telah berkembang saat ini antara lain dalam bentuk forum diskusi online, ujian online, meng-upload dan men-download.

Sedangkan contoh pemanfaatan synchronous presentation tools antara lain melalui audio/video streaming, dan polling. Selain itu masih tersedia teknologi lain yaitu teknologi nirkabel (wireless) dan mobile technologies. Melalui apa yang disebut information superhighway,kini tersedia infrastruktur yang mampu memberikan layanan yang luar biasa kecepatannya. Tersedianya satelit generasi baru dengan orbit bumi yang rendah telah memungkinkan timbulnya frekuensi baru untuk komunikasi terrestrial. Secara wireless pertukaran informasi berupa teks, audio dan video dapat dilakukan dengan mudah.

Singkatnya kini pendidikan berbasis Web atau internet telah menggejala dan dapat dengan mudah Anda ikuti. Meskipun demikian masih banyak orang yang mempertanyakannya. Ada yang optimis dan banyak yang pesimis. Ada yang menemukan ironi bahwa “there is no learning in e-learning” (Bonk, 2004). Marilah kita lihat salah satu hasil kajian yang terkait dengan hal tersebut. Curtis J. Bonk, professor di Indiana University yang telah melakukan berbagai penelitian tentang e-learning sejak 2001,salah satunya dalam laporan bertajuk “Online Teaching in an Online World” mencatat bahwa kini semakin banyak instruktur, guru dan professor yang mempelajari dan menerapkan online teaching. Hal yang menarik pada 2003-2004 kebanyakan mereka adalah wanita (53%).

Keterampilan penting yang mereka pelajari secara online adalah tentang bagaimana memfasilitasi pembelajaran dan bagaimana mengembangkan online course. Kini di Amerika telah berkembang berbagai mitos berkaitan plus minus online learning, tetapi semakin banyak yang menawarkan pembelajaran secara online. Siswa pun semakin menggemari simulasi dan pengalaman virtual di lingkungan virtual, serta menyukai sekaligus terampil memanfaatkan buku elektronik yang disajikan secara hypertext.

Persyaratan terselenggaranya pendidikan berbasis teknologi komunikasi dan informasi (ICT)

Pendidikan berbasis ICT dapat terselenggara dengan baik apabila persyaratan yang terkait dengan ketersediaan teknologi, penguasaan pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan content,dukungan policy dan kesiapan masyarakat dipenuhi. Tanpa keempat syarat minimal tersebut dipenuhi mustahil pendidikan semacam itu akan terlaksana

Sumber: Pustekkom
http://pustekkom.depdiknas.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=96:pembelajaran-berbasis-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dalam-rangka-mewujudkan-keunggulan-proses-belajar&catid=41:artikel&Itemid=75

Kamis, 12 Mei 2011

Internet dan Pendidikan

Internet dan Pendidikan

English Here
Jaringan Pendidikan Network mulai berjalan pada tahun 1998 waktu saya bekerja di Depdiknas (Kemendiknas). Dari tahun 1998 sampai tahun 2000 saya menulis beberapa artikel mengenai komputer dan Internet yang berdasar implementasi sesuai dengan Manajemen Berbasis-Sekolah (MBS) dan ini salah satu artikel dari waktu itu.

Tetapi, kira-kira tahun 2000-2001 industri TIK yang sedang berjuang di pasar TIK yang sedang sulit di Indonedia mulai sadar mengenai Peluang Bisnis TIK di Sektor Pendidikan (pasar besar - sekarang lebih dari 50 juta murid). Sejak waktu itu kami sudah berjuang untuk mengatasi Banyak Retorika yang muncul mengenai peran TIK dalam pendidikan, maupun isu-isu terkait Mutu Pendidikan dan Teknologi. Itu sebabnya akhirnya kami merasa membutuh situs Ilmu Teknologi Pendidikan.
Indonesia terdiri dari 17,000 lebih pulau dan kira-kira ada 300 bahasa daerah yang masih digunakan. Krisis Ekonomi & Korupsi (Krisis Kepercayaan) sekarang semakin menunjukkan betapa pentingnya suatu komunikasi baik secara lokal maupun global. Komputer dan Internet sudah diterima sebagai alat yang penting untuk komunikasi dan bisnis di Indonesia, sehingga sekarang menjadi hal yang penting pula untuk pendidikan Indonesia yang sedang mengalami reformasi.

Awal dari milenium baru dan reformasi menjanjikan harapan untuk mempercepat perkembangan sektor pendidikan di Indonesia. Kunci utama yang memicu akan timbulnya harapan baru tersebut berjalan kearah desentralisasi, manajemen berbasis sekolah, dan pemberdayaan sekolah serta masyarakat untuk mempengaruhi hasil (outcomes) sekolah, juga kesatuan tujuan-tujuan dari semua sektor pendidikan.
Dimasa lalu telah dibentuk sistem komunikasi yang efisien dan efektif untuk menyebarkan informasi ke berbagai semua sektor di kalangan pendidikan. Desentralisasi pendidikan akan membutuhkan paradigma dan peran baru untuk administrasi pendidikan. Komponen utama dalam peran baru ini yaitu meliputi ; monitoring yang efisien, pengidentifikasian kebutuhan dan menempatkan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain untuk menghadapi kebutuhannya. Pada umumnya masalah-masalah utama pendidikan berdasarkan sistemnya, dan sekarang potensi sumber daya manusia disemua sektor tidak dimanfaatkan secara penuh. Kebanyakkan penelitian dan pengembangan yang dimulai pada masa transisi baru ini seharusnya diarahkan pada pengembangan sitem komunikasi yang memberdayakan beberapa sektor pendidikan untuk membantu pengembangan dan arah masa depan pendidikan di Indonesia.
Sistem komunikasi
Penekanan penting akan memaksimumkan sumber daya manusia disemua sektor, berarti kita akan membutuhkan sisitem komunikasi yang sangat efektif. Apabila kita merespons pada kebutuhan fokus awal seharusnya lebih berdasarkan penerimaan informasi daripada penyebaran informasi. Hal ini hampir memutarbalikan peran jika dibandingkan dengan peran komunikasi administrasi pendidikan yang dulu.
Penelitian mengenai pengembangan sekolah secara jelas menunjukan salah satu cara yang paling efektif bagi sekolah yang ingin berkembang secara mandiri yaitu lewat berbagi (sharing) informasi dan ide-ide. Salah satu dukungan yang terbesar untuk pengembangan pribadi dan profesi kepala sekolah yang memanfaatkan proses pembaharuan yaitu komunikasi yang terbuka dan mendukung melalui forum rutin kepala sekolah. Melalui penyampaian masalah secara kolektif diantara rekan seprofesi sudah menghasilkan solusi yang efektif dan dapat direalisasikan.
Masukan (input) dan kontribusi langsung dari para pemegang peran (stakeholders) yang lain; siswa, orang tua dan anggota masyarakat juga memberikan informasi yang sangat membantu dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi pengembangan sekolah. Jika obyektifitas utamanya adalah memaksimalkan pendidikan sumber daya manusia maka hal itu telah meningkatkan hubungan komunikasi kita dengan seluruh sektor lingkungan pendidikan dan para pemegang peran (stakeholders). Lagipula kunci utama untuk meningkatkan komunikasi harus terfokus pada saling berbagi komunikasi terbuka dan meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan dukungkan dari segala bidang.
Tanggung jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi baru ini yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Kemampuan untuk berbicara bahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua kriteria yang biasa diminta masyarakat untuk memasuki lapangan kerja baik di Indonesia maupun diseluruh dunia. Dan hanya sekitar 20-30 % lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke tingkat pendidikan lebih tinggi, maka dengan adanya komputer yang telah merambah disegala bidang kehidupan manusia hal itu membutuhkan tanggung jawab sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan kemampuan berbahasa siswa dan kemahiran komputer ( lihat bagian Pendaluan-Komputer )
Oleh karena adanya prioritas yang tinggi untuk membangun fasilitas komputer diseluruh sekolah-sekolah di Indonesia dan adanya jarak yang cukup jauh antara sekolah provinsi di Indoesia, sepertinya Internet pilihan yang cukup baik untuk mengembangkan komunikasi antar sekolah, Kanwil, Kandep, dan DEPDIKNAS yaitu dapat dilakukan lewat Internet. Beberapa sekolah telah mengambil inisiatif untuk membangun fasilitas mereka sendiri. Berdasarkan langkah yang sudah ada ini, dan membiarkan hal itu berkembang sendiri yaitu tetap konsisten akan kebutuhan belajar siswa kita, maka Internet sebagai strategi yang sesuai untuk menjadi medium komunikasi yang sah.
Internet dalam belajar dan mengajar (7 tahun kemudian - Membaca!)
Kekayaan akan informasi yang sekarang tersedia di Internet telah lebih mencapai harapan dan bahkan imajinasi dari para penemu system yang pertama. Internet awalnya diciptakan untuk kebutuhan system pertahanan militer supaya dapat didesentralisasikan sehingga dapat mengurangi resiko kerusakkan total, mungkin saja hal inibisa terjadi apabila sistem sentral komputer utama dimusnahkan.
Internet juga dapat didesentralisasikan dan diberdayakan. Dengan menggunakan internet kita dapat mengakses sumber-sumber informasi tanpa batas dan sedang berkembang secara cepat sekali. Kita dapat berkomunikasi secara masing-masing atau secara massa yang dapat dilakukan dimana saja diseluruh dunia hanya dalam waktu beberapa detik saja. Kita dapat menyebarkan (publish) informasi yang bisa di akses dari mana saja di seluruh dunia dalam waktu singkat sekali. Kita dapat berkomunikasi secara langsung (real time) melalui telepon dan unit video processing. Kita bisa melakukan "chat" melalui jaringan gratis "chat" yang sangat luas yaitu mIRC.
Bagi para guru internet menawarkan beberapa kesempatan untuk diraih:
    Pengembangan Profesional
      (a) Meningkatkan pengetahuan (b) Berbagi sumber diantara rekan sejawat/ sedepartemen (c) Bekerjasama dengan guru-guru dari luar negeri (d) Kesempatan untuk menerbitkan /mengumumkan secra langsung (e) Mengatur komunikasi secara teratur (f) Berpatisipasi dalam forum dengan rekan sejawat baik local maupun internasional.
    Sumber bahan mengajar :
      (a). Mengakses rencana belajar mengajar & metodologi baru (b). Bahan baku & bahan jadi cocok untuk segala bidang pelajaran (c). Mengumumkan dan berbagi sumber. Sangat tingginya popularitas / sangat tingginya minat untuk meningkatkan siswa lebih terfokus belajar.
Untuk siswa Internet menawarkan kesempatan untuk;
    Belajar sendiri secara cepat :
      (a). Meningkatkan pengetahuan (b). Belajar berinteraktif (c). Mengembangkan kemampuan di bidang penelitian
    Memperkaya diri :
      (a). Meningkatkan komunikasi dengan siswa lain (b). Meningkatkan kepekaan akan permasalahan yang ada diseluruh dunia
Walaupun Internet berpotensi untuk menyampaikan keuntungan-keuntungan tersebut bagi para guru maupun para siswa, pemakaian Internet di kelas hendaknya harus disusun sedemikian rupa dengan belajar mendefisinasikan secara obyektif. Kegiatan siswa juga harus dimonitor dengan baik.
Kenapa?
Seperti mana yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Internet itu berisi berbagai macam informasi dan sumber-sumber informasi lain, meskipun didalamnya juga terkandung hal-hal yang tidak berguna dan menghabiskan waktu sehingga mengganggu pelajaran siswa dengan mudahnya. Padahal keikutsertaan dalam kegiatan ini diluar jam belajar siswa, mungkin saja dapat memberi keuntungan bagi pengetahuan mereka atau mengembangkan kemampuan lainnya. Waktu belajar di kelas harus tetap difokuskan pada pelajaran utama. Rencana belajar mengajar yang efektif untuk menggunakn Internet akan memerlukan beberapa kemampuan baru guru untuk dapat lebih mengefektifkan waktu.
Satu dari keuntungan yang sangat potensial dari Internet selain untuk para administrator dan kepentingan sekolah, yaitu mngkin adalah untuk memudahkan pengoleksian lembaran data-data sekolah yangdaat langsung terkirim ketujuannya baik ke perorangan maupun ke masyarakat luas.
Guru, terutama guru bahasa dan guru pelajaran ilmu sosial, dapat mengambil (down-load) berita dan kejadian terkini yang bisa digunakan sebagai bahan mengajar di kelas pada hari yang sama saat itu juga. Semua guru dapat menggunakan Internet baik untuk keperluan pengembangan pribadi maupun secara profesional bekerjasama dalam wilayah regional maupun diseluruh dunia.
Perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk dibeli?
Penulis menyarankan sebagai langkah awal membeli satu unit komputer dengan modem didalamnya dan CD ROM drive. Dan komputer ini harus ditempatkan di ruang perpustakaan sekolah sehingga bisa dipergunakan oleh seluruh staf dan para siswa serta harus diawasi pemakaiannya oleh petugas perpustakaan. Petugas perpustakaan ini juga harus dilatih untuk menangani perawatan dan pemeliharaan rutin komputer. Serta mereka juga diberi wewenang khusus untuk mengatur jadwal pemakaian komputer dengan cara sistem memesan tempat.
Biaya : Antara Rp. 3.000.000,- - Rp.5.000.000,- tergantung nilai tukar rupiah.
Apabaila sekolah anda sudah mempunyai laboratorium komputer maka bentuk modem terpisah dapat dibeli dengan harga yang cukup murah untuk mengakses Internet dari laboratorium, tergantung permintaan. Bentuk modem terpisah ini juga dapat disediakan bagi pemakaian di departemen.
Apalagi yang diperlukan?
Pastinya anda membutuhkan Internet Service Provider (ISP). Ini adalah sejenis perusahaan yang menyediakan jasa sambungan/ hubungan ke Internet melalui saluran telepon. Penulis menyarankan sebagai langkah awal, sebaiknya membuka sebuah account siswa sampai mereka tahu berapa menit per bulannya yang mereka perlukan. Cobalah untuk mendaftar USER-NAME ( nama pemakai ) berhubungan dengan nama sekolah anada, contohnya SMK3PALU, karena ini juga dapat digunakan sebagai alamat e-mail anda ( lihat dibawah ). Ada daftar Internet Service Provider dalam petunjuk homepage ini.
Biaya : Antara Rp.50.000,- - Rp.100.000,- per bulan + Biaya pemasangan ringan. E-mail Account
Biasanya ISP menyediakan paling tidak satu account e-mail dan ini menggunakan "user name" anda, contohnya diambil dari contoh diatas SMK3Palu@Sulawesi.Net. Account ini bisa juga dipakai untuk keperluan resmi sekolah.
E-mail Account Siswa
Penulis menyarankan bahwa siswa-siswa sebaiknya membuka e-mail account pribadi di http://mail.yahoo.com, http://www.hotmail.com, atau salah satu dari sekian banyak e-mail provider gratis yang ada. E-mail account tersebut diatas lebih disukai dari account servis provider karena mereka dapat digunakan secara permanen. Dan ini juga merupakan ide yang baik bagi sekolah-sekolah untuk mempunyai alamat e-mail alternatif, apabila dalam keadaan mendesak mereka mengganti servis provider. Saya akan menyarankan menggunakan Yahoo.com karena mereka memperbolehkan anda untuk POP surat anda, mengirim surat ke alamat lain (forwarding), ataupun membacanya dari situs internet mereka dimana saja ( lebih fleksibel).
Homepage dan Nama Domain
Ada banyak homepage provider yang gratis. Hadir ke Free Hosting.
"Domain Name" (alamat khusus di Internet) tidaklah sangat penting terkecuali bila anda adalah organisasi yang mencari keuntungan atau untuk bisnis. Kecuali bila domain name anda mudah untuk diingat seperti "Pendidikan.Net" maka manfaatnya tidak terlalu penting. Apabila anda membuat homepage di FreeWebsites.Com maka anda mempunyai alamat (atau URL) seperti htpp://www.FreeWebsites.Com/~SMK3Palu. Bila anda mengunjungi homepage link di SLTA.Net atau SLTP.Net maka anda akan menjumpai banyak homepage sekolah yang berlokasi di situs gratis seperti ini. Keuntungan utama dari situs gratis ini adalah tidak dikenakan biaya perawatan dan tidak terkait apapun ISP yang anda pilih .
Telepon dan Pulsa
Seringkali kalau guru atau Kepsek ditanya "sudah punya Internet?" Jawabannya "Belum, pulsa telepon terlalu mahal"
Apakah, kalau sekolah Anda bisa berkomunikasi dengan semua sekolah di Indonesia, dengan Kanwil, Kandep, atau Dikmenum lewat telepon selama lima menit sehari atau kurang masih merasa mahal?. Sebagai contoh, saya download e-mail dari beberapa server (dari banyak website) dan banyak alamat e-mail yang saya punya setiap pagi dan perlu waktu kurang dari lima menit (<5 menit). Bagaimana bisa begitu? Saya menggunakan Post Office Protocol (POP) mail. Semua sekolah bisa pakai POP mail gratis seperti ini yang disediakan di Free POP Mail. Surat-surat diPOP dari hostnya langsung ke e-mail browser kita. Setelah itu sambungan ke Internet langsung dimatikan.
Surat-surat tsb dibaca OFF-LINE (tidak sambung ke Internet) dan tidak ada ongkosnya. Surat-surat ini dapat diprint atau dicopy (blok dan copy) ke Word, Wordpad, atau Notepad untuk di bawa ke tempat line (lewat disket).
Tetapi bagaimana kalau kita mau kirim surat atau membalas surat?
Sama juga:
  • 1. Membuat surat dulu di Word atau Notepad atau Wordpad.
  • 2. Buka browser kalau pakai Netscape (klik mail) atau kalau pakai Internet Explorer buka Microsoft Outlook.
  • 3. Buka "New Msg" di Netscape atau "New" di Microsoft Outlook.
  • 4. Mengisi alamat e-mail, subject, dan isinya surat.
  • 5. Kalau lebih dari satu surat mengulang step 3 & 4 sampai semua surat sudah dibuat.
  • 6. Kalau sudah selesai baru sambung ke Internet.
  • 7. Klik "Send" (kirim surat) di semua surat masing-masing (langsung saja).
  • 8. Kalau Anda pakai Microsoft Outlook Anda juga harus klik "Send/Receive" setelahnya.
  • 9. Tunggu sampai semua surat sudah dikirim (biasanya cepat).
  • 10. Kalau di Microsoft Outlook Anda secara automatis menerima surat baru juga kalau ada. Kalau Anda pakai Netscape sebaiknya cek kalau ada surat baru Klik "Get Msg".
  • Matikan sambungan ke Internet.
Kalau Anda pakai sistem ini pulsa telepon tidak akan mahal. Jadi, setiap pagi sambung sebentar saja. Selama waktu itu dapat mengirim surat-surat yang sudah disediakan siang hari sebelumnya dan menerima surat yang baru.
Bagaimana dengan Searching the Internet?
Terus-terang, kalau siswa/i memakai Internet di dalam waktu belajar, gurunya harus sangat berpengalaman untuk menggunakan waktu dengan hemat agar menghasilkan pelajaran yang baik. Mungkin Internet bisa dipakai dengan cara ini setelah guru-guru sudah cukup berpengalaman. Saya pernah memakai Internet untuk mengajar tetapi tujuan pelajaran dan kegiatan siswa/i harus jelas dan dimonitor terus.
Untuk guru Internet juga bisa menghabiskan banyak waktu dan uang kalau kita tidak membuat sistem yang baik dari awalnya. Maksud saya, daripada semua guru cari informasi yang sama dan menghabiskan waktu masing-masing, penting sekali bila kita membuat pusat informasi tentang situs yang bagus dan relevan. Kalau sudah ada pusat informasi guru hanya perlu kirim e-mail ke pusat dan minta URL (Universal Resource Locator - alamat homepagenya). Jadi, cuma satu orang yang mencari (lebih hemat) dan informasi ini bisa dipasang di halaman "links informasi" di Website pusatnya supaya kalau guru lain cari informasi bisa cek disitu dulu.
Sesuai dengan yang sudah sering dikatakan, sebaiknya semua siswa/i di Indonesia dapat pengalaman memakai komputer dan Internet. Kebanyakan mengenai Internet dan cara membuat homepage misalnya kita dapat mengajar dengan komputer tanpa sambung ke Internet. Kalau kita ingin membuat program keterampilan komputer biayanya bisa dinaikkan sesuai dengan ongkos bila siswa/i menggunakan waktu di Internet (sharing) dalam programnya. Lebih baik siswa dapat kenalan Internet saja di sekolah dan melanjutkan kemampuan sendiri di Warung Internet. Di banyak sekolah yang belum punya fasilitas Internet siswa/inya sudah lama memakai Internet dan pengalamannya juga banyak. Pengalaman mereka bisa digunakan untuk membantu guru atau pustakawan untuk belajar mengenai Internet. Dengan teknologi baru ini sebaiknya kita mengunakan semua kemampuan SDM di sekolah.
Kesimpulan:
Kalau kita ingin mengajar, kita perlu memperhatikan hal-hal utama yaitu rencana dan strateginya. Sama dengan Internet. Kalau kita ingin membuat sistem komunikasi yang baik dan hemat, dan meningkatkan pendidikan siswa/i dalam ilmu komputer yang sesuai dengan dana sekolah, yang penting rencana (program) yang baik, dan strategi-strategi yang terbaik sesuai dengan keadaan sekolahnya. Dengan prinsip-prinsip yang disebut di dalam "Kiat Mendapatkan Dana" kita bisa secara terus-menerus melakukan peningkatan mutu pendidikan di sekolah kita secara mandiri.

70 Persen Guru Belum Melek Komputer

70 Persen Guru Belum Melek Komputer
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sekitar 70 persen guru di DI Yogyakarta belum melek komputer. Padahal, saat ini kemampuan menguasai komputer mutlak dimiliki guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Hal ini menjadi keprihatinan khusus dalam memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh 25 November.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) DIY Zainal Fanani mengatakan, di zaman ini, ketidakmampuan guru di bidang komputer dapat menciptakan jurang pengetahuan antara guru dan muridnya. Akibatnya, fungsi guru sebagai sumber pengetahuan dapat tak berlaku lagi.

”Rata-rata anak-anak sekarang sudah menguasai komputer dengan sangat baik. Kalau guru tidak menguasai, murid bisa jadi lebih lebih pintar dan luas pengetahuannya karena telah banyak membaca dari internet,” katanya di Yogyakarta, Kamis (25/11/2010).

Saat ini terdapat sekitar 51.000 guru di seluruh DIY. Beberapa di antaranya bahkan diketahui tidak bisa mengoperasikan aplikasi internet. Banyak guru yang tidak menguasai komputer ini adalah guru-guru yang berusia tua dan guru yang tinggal di pedesaan.

Guru yang belum melek komputer mengakibatkan pengajaran tidak berkembang. Selain itu, hal ini juga dikhawatirkan menurunkan wibawa guru di hadapan peserta didik sehingga fungsi pengajaran tidak bisa berjalan dengan baik.....................

Sumber: Kompas.Com
Berita Lengkap: http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/26/09501465/
70.Persen.Guru.Belum.Melek.Komputer